"Kamu cantik, Mary" ucapku pelan berharap tak ada yang menemukan keberadaanku. Aku melihatmu dari kejauhan. Memakai gaun putih panjang, dengan riasan seminimalis mungkin. Ada anting-anting kecil bersembunyi di telingamu, kadang menampakan diri ketika bias cahaya lampu mengenainya. Kamu berdiri di depan bersama seorang pria ber umur, aku yakin dia bukan pasanganmu, aku yakin itu. Pria tua itu membawa buku besar dan berdiri tepat di depanmu. sepertinya dia ahli agama, sempat aku mendengarnya berbicara layaknya seorang yang sedang berdoa. Sudah sejam kamu berdiri disana, Mary. Tapi kamu masih sendiri tanpa pasangan. "Dimana pendampingmu? Apa dia tak akan datang?" Tanyaku dalam hati. Tamu undangan sepertinya setuju denganku. Buktinya mata mereka masih mencari-cari keberadaan pendampingmu. "Teng..Teng...Teng...Teng..." Bunyi piano mengagetkanku. Jari-jari Linzie menekan-nekan tuts piano dengan lihai, berpindah dari satu kunci ke kunci lain berirama. Dia ...