Aku mengambil nafas sedalam dalamnya. Aku masih tidak
percaya apa yang tengah ku lihat sekarang. Hatiku hancur seperti bola kaca yang
terjatuh dari tebing. Apakah ini nyata?
Satu bulan yang lalu
“Elin, kamu dimana?” ayah berteriak di keramaian
“ayah, di sini” teriaku sambil melambaikan tangan.
Kami sedang berada di pasar malam, karena ini libur
semesterku aku dan ayah berlibur ke rumah nenek. Di rumah nenek hanya ada nenek
dan bibikku. Aku sangat merindukan suasana rumah nenek karena kesan tradisional
dan kekeluargaannya sangat terasa. Walau rumah nenekku berada di perbukitan
tapi bentuk rumahnya cukup klasik. Kalian bertanya dimana ibuku? Ibuku
meninggalkan kami sejak 3 bulan lalu. Suatu malam ayah dan ibu bertengkar hebat
dan keesokan paginya ibu meninggalkan kami. Sejak kepergian ibu aku sangat
kesepian, namun ayah selalu menghiburku sehingga aku dapat bangkit dari
keterpurukan. Namun aku masih tak mengerti kenapa ibuku meninggalkanku tanpa
mengucapkan sepatah katapun.
“Elin ayo kita pulang, ini sudah larut malam” ajak
ayah
“sebentar lagi ayah, aku ingin mencoba wahana lain”
“ya sudah, kamu coba saja sendiri, ayah sudah capek”
“baik” ucapku gembira
Aku ingin mencoba wahana kincir angin, antriannya
cukup banyak, mungkin karena wahana ini cukup populer di pasar malam ini.
Setelah menunggu kira-kira 15 menit antriankupun sampai.
“maaf, apakah nona sendiri?” tanya petugas wahana
“iya saya sendiri”
“maaf nona, wahana ini dapat dinaiki minimal 2 orang.
Sudah tertera di papan petunjuk” jelasnya lagi sambil memperlihatkan peraturan
wahana
“aish…aku tak membacanya sama sekali” gerutuku
“maaf, kami datang berdua” ucap pria yang ada di
belakangku
“oh begitu, kalau begitu, kalian berdua silahkan
masuk” jawab petugas tersebut
Kami berdua pun masuk ke wahana kincir. Aku tak
berkata apapun kepada pria asing itu. Entah kenapa, aku pikir mungkin dia sama
denganku yang datang sendirian dan mencari alasan agar dapat naik wahana ini
tanpa mengantri lama. Aku hanya menatap keluar jendela.
“saya Lark” katanya sambil mengulurkan tangan.
“oh.. saya Elin” menjabat tangannya sekedar basa basi,
lalu kembali menatap jendela.
“apa aku menakutimu?” tanyanya
“tidak, sama sekali tidak” jawabku sambil tersenyum
“syukurlah” jawabnya
“oh iya, apa kamu tahu alasanku naik kincir ini
bersamamu?”
“entahlah? Agar tidak mengantri mungkin? “ kataku dan
jawaban ini membuatnya tertawa dan mau tidak mau aku juga tertawa sekedar basa
basi.
“kamu benar-benar lucu”
“benarkah? Mungkin besok aku akan menggantikan badut
di taman itu kalau begitu” jawabku dan dia malah tertawa terbahak-bahak
“maaf… aku benar-benar minta maaf, aku tidak bisa
mengontrol ketawaku” ucapnya sambil mengusap air mata akibat tertawanya itu
“tidak apa-apa kok, oh ya kenapa kamu masuk ke kincir
ini bersamaku?”
“oh iya hampir lupa, tadi dompetmu jatuh di toko kue,
aku mengejarmu dan memanggilmu namun kamu sama sekali tidak melihatku. Dan
akhirnya aku mendapatkanmu di wahana kincir ini. Aku hanya ingin mengembalikan
dompetmu” katanya
“wah terima kasih” ucapku senang
“coba kamu periksa apakah ada yang kurang?”
perintahnya dan aku mngikutinya. Aku memeriksa beberapa kartu ATMku masih ada
tidak ada yang hilang, kecuali uangku berkurang. Aku merasa uangku kurang
50.000 atau hanya perasanku saja.
“apa ada yang hilang?” tanyanya lagi
“semuanya lengkap kok, tapi uangku sepertinya kurang
50.000 atau aku salah ingat yah?”
“oh itu, aku mengejarmu sampai ke wahana kinci ini.
Dan untuk naik ke sini butuh tiket, aku memakai uangmu untuk membeli tiketnya.
Kan itu untuk kepentinganmu juga kan” jelasnya
“oh iya tidak apa-apa, terima kasih banyak” kataku
“tak masalah, oh iya, ini adalah wahana yang paling
bagus menurutku. Kamu bisa menikmati keindahan kota dari ketinggian. Bukankah
ini menyenangkan?” katanya
Akupun melemparkan pandanganku ke sudut kota, sangat
indah melihat lampu kota yang menyala bagai bintang. Kami pun terdiam sejenak
menikmati indahnya. Tak terasa waktu menikmati wahana ini sudah habis dan kami
turun.
Bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu Lark?”
“hmm…. Bagaimana yah?”
“apa kamu menginginkan sesuatu?”
“oh iya, tanggal 27 bulan ini usiaku 17 tahun 4 bulan,
jadi aku ingin merayakannya dengan diner bersamamu. Di restoran dekat toko buku
depan taman kota, apa kamu tahu tempat itu?”
“iya aku tahu, tapi…”
“ok kalau begitu sampai jumpa dua hari lagi yah”
katanya sambil berlalu
“haish… apa-apaan dia, aku kan hanya basa-basi. Tapi
orang mana sih yang merayakan ulang tahun tiap bulan. Aneh.” Gerutuku.
Aku menghampiri ayah yang sedari tadi menungguku di
bangku taman. Dan kamipun kembali ke rumah nenek.
Satu
minggu yang lalu
“aku pikir kamu tidak akan datang” ucap Klark
“tentu saja aku datang, aku tak suka mengingkari
janji” ucapku
“kadoku mana?” tanyanya
“hah kado? Maksudnya?” jawabku
“ini kan perayaan ulang tahunku yang ke 17 tahun 4 bulan.
Bukankah jika perayaan ulang tahun itu harusnya ada kado?”
“oh my God, apa orang ini benar-benar merayakan ulang
tahunnya tiap bulan? Seharusnya saya tidak datang di tempat ini?” umpatku dalam
hati
“kado yah? Aku tidak membelinya, takutrnya nanti kamu tidak
menyukainya. Makanya aku mau tanya dulu kado apa yang kamu inginkan, baru saya
akan mewujudkannya” jawabku ngasal
“hmm… begitu yah, yang aku inginkan yah? Hmmm…. Oh iya, aku
ingin ke rumahmu, apa hal itu bisa terwujud?” tanyanya
“apa dia benar-benar polos? Jelas-jelas tadi saya
hanya basa basi” gerutuku lagi
“rumahku di luar kota, aku di sini berlibur di rumah
nenek”
“kalau begitu kita ke rumah nenekmu saja. Ok sudah
diputuskan” ucapnya senang
“hei.. tunggu dulu..”
“apa lagi? Oh iya kurang kue dengan lilin yah? Tunggu
sebentar aku akan pesan” jawabnya bersemangat.
“ah sudahlah… aku tak ingin berkata lagi” ucapku
Kami pun merayakan ulang tahun Klark yang ke 17 tahun
4 bulan ini, menurutku ini sangat memalukan, bagaimana tidak, Klark memesan kue
yang bertuliskan “HBD Klark 17 tahun 4 bulan” dan parahnya dia meminta penyanyi
di restoran itu untuk menyanyikan lagu ulang tahun dengan “17 tahun 4 bulan”
sebagai line marknya. Seluruh
pengunjung restoran ikut bernyanyi disertai tawa. Tapi dia sangat menikmatinya.
Namun lama kelamaan aku menjadi terbiasa dengan hal itu. Dia bercerita banyak
mengenai keluarganya, keluarganya adalah pengusaha kelapa sawit di kota ini.
Dia 3 bersaudara, kedua kakaknya sudah mengurus bisnis ayahnya di kota lain dan
di rumah hanya dia dan ibu. Aku tahu sekarang kenapa dia seperti ini, dia butuh
teman untuk bersamanya. Kalau diperhatikan baik-baik dia cukup lucu dengan
tingkah polosnya. Dan dia cukup tampan.
“bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka baik?”
“keluargaku? Aku anak tunggal, di rumah aku bersama
ayah. Karena aku libur semester aku dan ayah berlibur ke kota ini, ke rumah
nenek”
“kamu pasti orang yang kuat” jawabnya
“kenapa?” tanyaku
“karena kamu anak tunggal dan hidup bersama ayah”
jawabnya sambil tersenyum
“kamu tak menanyakan tentang ibuku?”
“apa kamu akan menceritakannya?”
“tentu saja, ibuku meninggalkanku 3 bulan yang lalu
tanpa alasan yang jelas. Aku benar-benar membencinya” jawabku, tanpa sadar air
mataku menetes.
“jangan membenci hal yang tidak kamu ketahui secara
jelas” jawabnya sambil memberikanku sapu tangan.
Saat itu aku sangat senang, ada orang lain yang mengerti aku.
Comments
Post a Comment