Skip to main content

Singularity (Part 1)


Aku mengambil nafas sedalam dalamnya. Aku masih tidak percaya apa yang tengah ku lihat sekarang. Hatiku hancur seperti bola kaca yang terjatuh dari tebing. Apakah ini nyata?

 Satu bulan yang lalu
“Elin, kamu dimana?” ayah berteriak di keramaian
“ayah, di sini” teriaku sambil melambaikan tangan.
Kami sedang berada di pasar malam, karena ini libur semesterku aku dan ayah berlibur ke rumah nenek. Di rumah nenek hanya ada nenek dan bibikku. Aku sangat merindukan suasana rumah nenek karena kesan tradisional dan kekeluargaannya sangat terasa. Walau rumah nenekku berada di perbukitan tapi bentuk rumahnya cukup klasik. Kalian bertanya dimana ibuku? Ibuku meninggalkan kami sejak 3 bulan lalu. Suatu malam ayah dan ibu bertengkar hebat dan keesokan paginya ibu meninggalkan kami. Sejak kepergian ibu aku sangat kesepian, namun ayah selalu menghiburku sehingga aku dapat bangkit dari keterpurukan. Namun aku masih tak mengerti kenapa ibuku meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Elin ayo kita pulang, ini sudah larut malam” ajak ayah
“sebentar lagi ayah, aku ingin mencoba wahana lain”
“ya sudah, kamu coba saja sendiri, ayah sudah capek”
“baik” ucapku gembira
Aku ingin mencoba wahana kincir angin, antriannya cukup banyak, mungkin karena wahana ini cukup populer di pasar malam ini. Setelah menunggu kira-kira 15 menit antriankupun sampai.
“maaf, apakah nona sendiri?” tanya petugas wahana
“iya saya sendiri”
“maaf nona, wahana ini dapat dinaiki minimal 2 orang. Sudah tertera di papan petunjuk” jelasnya lagi sambil memperlihatkan peraturan wahana
“aish…aku tak membacanya sama sekali” gerutuku
“maaf, kami datang berdua” ucap pria yang ada di belakangku
“oh begitu, kalau begitu, kalian berdua silahkan masuk” jawab petugas tersebut
Kami berdua pun masuk ke wahana kincir. Aku tak berkata apapun kepada pria asing itu. Entah kenapa, aku pikir mungkin dia sama denganku yang datang sendirian dan mencari alasan agar dapat naik wahana ini tanpa mengantri lama. Aku hanya menatap keluar jendela.
“saya Lark” katanya sambil mengulurkan tangan.
“oh.. saya Elin” menjabat tangannya sekedar basa basi, lalu kembali menatap jendela.
“apa aku menakutimu?” tanyanya
“tidak, sama sekali tidak” jawabku sambil tersenyum
“syukurlah” jawabnya
“oh iya, apa kamu tahu alasanku naik kincir ini bersamamu?”
“entahlah? Agar tidak mengantri mungkin? “ kataku dan jawaban ini membuatnya tertawa dan mau tidak mau aku juga tertawa sekedar basa basi.
“kamu benar-benar lucu”
“benarkah? Mungkin besok aku akan menggantikan badut di taman itu kalau begitu” jawabku dan dia malah tertawa terbahak-bahak
“maaf… aku benar-benar minta maaf, aku tidak bisa mengontrol ketawaku” ucapnya sambil mengusap air mata akibat tertawanya itu
“tidak apa-apa kok, oh ya kenapa kamu masuk ke kincir ini bersamaku?”
“oh iya hampir lupa, tadi dompetmu jatuh di toko kue, aku mengejarmu dan memanggilmu namun kamu sama sekali tidak melihatku. Dan akhirnya aku mendapatkanmu di wahana kincir ini. Aku hanya ingin mengembalikan dompetmu” katanya
“wah terima kasih” ucapku senang
“coba kamu periksa apakah ada yang kurang?” perintahnya dan aku mngikutinya. Aku memeriksa beberapa kartu ATMku masih ada tidak ada yang hilang, kecuali uangku berkurang. Aku merasa uangku kurang 50.000 atau hanya perasanku saja.
“apa ada yang hilang?” tanyanya lagi
“semuanya lengkap kok, tapi uangku sepertinya kurang 50.000 atau aku salah ingat yah?”
“oh itu, aku mengejarmu sampai ke wahana kinci ini. Dan untuk naik ke sini butuh tiket, aku memakai uangmu untuk membeli tiketnya. Kan itu untuk kepentinganmu juga kan” jelasnya
“oh iya tidak apa-apa, terima kasih banyak” kataku
“tak masalah, oh iya, ini adalah wahana yang paling bagus menurutku. Kamu bisa menikmati keindahan kota dari ketinggian. Bukankah ini menyenangkan?” katanya
Akupun melemparkan pandanganku ke sudut kota, sangat indah melihat lampu kota yang menyala bagai bintang. Kami pun terdiam sejenak menikmati indahnya. Tak terasa waktu menikmati wahana ini sudah habis dan kami turun.
Bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu Lark?”
“hmm…. Bagaimana yah?”
“apa kamu menginginkan sesuatu?”
“oh iya, tanggal 27 bulan ini usiaku 17 tahun 4 bulan, jadi aku ingin merayakannya dengan diner bersamamu. Di restoran dekat toko buku depan taman kota, apa kamu tahu tempat itu?”
“iya aku tahu, tapi…”
“ok kalau begitu sampai jumpa dua hari lagi yah” katanya sambil berlalu
“haish… apa-apaan dia, aku kan hanya basa-basi. Tapi orang mana sih yang merayakan ulang tahun tiap bulan. Aneh.” Gerutuku.
Aku menghampiri ayah yang sedari tadi menungguku di bangku taman. Dan kamipun kembali ke rumah nenek.

Satu minggu yang lalu
“aku pikir kamu tidak akan datang” ucap Klark
“tentu saja aku datang, aku tak suka mengingkari janji” ucapku
“kadoku mana?” tanyanya
“hah kado? Maksudnya?” jawabku
“ini kan perayaan ulang tahunku yang ke 17 tahun 4 bulan. Bukankah jika perayaan ulang tahun itu harusnya ada kado?”
“oh my God, apa orang ini benar-benar merayakan ulang tahunnya tiap bulan? Seharusnya saya tidak datang di tempat ini?” umpatku dalam hati
“kado yah? Aku tidak membelinya, takutrnya nanti kamu tidak menyukainya. Makanya aku mau tanya dulu kado apa yang kamu inginkan, baru saya akan mewujudkannya” jawabku ngasal
“hmm… begitu yah,  yang aku inginkan yah? Hmmm…. Oh iya, aku ingin ke rumahmu, apa hal itu bisa terwujud?” tanyanya
“apa dia benar-benar polos? Jelas-jelas tadi saya hanya basa basi” gerutuku lagi
“rumahku di luar kota, aku di sini berlibur di rumah nenek”
“kalau begitu kita ke rumah nenekmu saja. Ok sudah diputuskan” ucapnya senang
“hei.. tunggu dulu..”
“apa lagi? Oh iya kurang kue dengan lilin yah? Tunggu sebentar aku akan pesan” jawabnya bersemangat.
“ah sudahlah… aku tak ingin berkata lagi” ucapku
Kami pun merayakan ulang tahun Klark yang ke 17 tahun 4 bulan ini, menurutku ini sangat memalukan, bagaimana tidak, Klark memesan kue yang bertuliskan “HBD Klark 17 tahun 4 bulan” dan parahnya dia meminta penyanyi di restoran itu untuk menyanyikan lagu ulang tahun dengan “17 tahun 4 bulan” sebagai line marknya. Seluruh pengunjung restoran ikut bernyanyi disertai tawa. Tapi dia sangat menikmatinya. Namun lama kelamaan aku menjadi terbiasa dengan hal itu. Dia bercerita banyak mengenai keluarganya, keluarganya adalah pengusaha kelapa sawit di kota ini. Dia 3 bersaudara, kedua kakaknya sudah mengurus bisnis ayahnya di kota lain dan di rumah hanya dia dan ibu. Aku tahu sekarang kenapa dia seperti ini, dia butuh teman untuk bersamanya. Kalau diperhatikan baik-baik dia cukup lucu dengan tingkah polosnya. Dan dia cukup tampan.
“bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka baik?”
“keluargaku? Aku anak tunggal, di rumah aku bersama ayah. Karena aku libur semester aku dan ayah berlibur ke kota ini, ke rumah nenek”
“kamu pasti orang yang kuat” jawabnya
“kenapa?” tanyaku
“karena kamu anak tunggal dan hidup bersama ayah” jawabnya sambil tersenyum
“kamu tak menanyakan tentang ibuku?”
“apa kamu akan menceritakannya?”
“tentu saja, ibuku meninggalkanku 3 bulan yang lalu tanpa alasan yang jelas. Aku benar-benar membencinya” jawabku, tanpa sadar air mataku menetes.

“jangan membenci hal yang tidak kamu ketahui secara jelas” jawabnya sambil memberikanku sapu tangan.
Saat itu aku sangat senang, ada orang lain yang mengerti aku.

Comments

Popular posts from this blog

Mau Dapat Penghasilan Tambahan di Skill Academy ? Yuk Simak Caranya.

Manfaat dan Keuntungan Menjadi Teman Skill Academy Halo Pembaca, apa kabar? Hari ini saya akan membagikan info terkait penghasilan tambahan melalui Skill Academy . Apakah ada yang belum tahu tentang Skill Academy ? Hmm... Kalau begitu yuk kita sama - sama kenalan dengan Skill Academy. Skill Academy adalah sebuah program inovasi yang dikembangkan oleh Ruang Guru. Iya, Ruang Guru, perusahaan teknologi terbesar di Indonesia yang berfokus pada dunia pendidikan. Skill Academy merupakan salah satu program yang bertujuan meningkatkan dan mengembangkan thecnical dan soft skill individu di berbagai bidang ilmu, baik personal maupun profesional. Program ini berbasis online sehingga pengembangan skill dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Untuk menikmati program Skill Academy sangatlah mudah, cukup mendownload aplikasinya dan membuat akun di skill academy . Selain meningkatkan skill penggunanya, Skill Academy juga memberikan penghasilan tambahan bagi penggunanya loh.  Yap,...

Singularity (Part 2)

Hari ini Teng..tong…teng..tong, bel rumah berbunyi. Dengan malas aku beranjak dari sofa kamar nonton ke ruang tamu. Ayah dan nenek sedang pergi, bibi sedang ke pasar untuk belanja. Akupun membuka pintu rumah “halo..” “Aaa…….” Teriakku lalu menutup pintu rumah segera Teng..tong…teng..tong, bel rumah berbunyi lagi “apa yang dilakukan mahluk itu di rumah ini. Dan bagaimana dia tahu rumah ini” gerutuku ng..tong…teng..tong, bel rumah berbunyi lagi kali ini bunyinya semakin sering. Akupun membuka pintu lagi. “halo..” sapanya lagi “apa yang kamu lakukan di sini?” jawabku ketus “bukannya kamu yang mengundangku ke rumah nenekmu. Seminggu yang lalu kamu bilang bahwa mengajakku ke sini” “tapi kan, kita menentukan waktunya. Lagi pula dari mana kamu tahu rumah ini?” “tentu saja aku tahu” katanya sambil berlalu masuk ke rumah “hey.. berhenti Klark, kamu seharusnya tidak langsung masuk seperti ini…” “oh iya, saya lupa membuka sepatu” ucapnya sambil membuka sepatu lalu kemba...

Membuat pasport

"Drrrttt...drrrttt" ponselku bergetar. Ku tengok layarnya, itu pesan dari ayahku. "Kamu sudah membuat pasport?" itu isi pesannya. "sementara pa" jawabku. Aku langsung beranjak dari kasur empukku dan berbegas ke kamar mandi. Aku lupa kalau hari ini adalah jadwal antrianku membuat pasport. Berbeda dari beberapa tahun lalu yang masih mengadopsi antrian langsung, saat ini Indonesia memberlakukan antrian online dalam pembuatan pasport. Untuk mendapatkan antrian dapat melalui situs resmi migrasi atau mendownload aplikasi berbasis android/ios di playstore/appstore dengan nama "antrian paspor" lalu mengisi data pribadi dan tempat pembuatan paspor yang dituju. Setelah melalui tahapan pengisian data, akan didapatkan jadwal antrian hari beserta waktunya dan kode bar yang akan digunakan saat proses pendaftaran di kantor migrasi. Tak perlu bersolek lebih lama karena waktu sudah menunjukan pukul 10.00 pagi, itu berarti aku hanya punya waktu sejam untuk b...