Hari
ini
Teng..tong…teng..tong, bel rumah berbunyi. Dengan
malas aku beranjak dari sofa kamar nonton ke ruang tamu. Ayah dan nenek sedang
pergi, bibi sedang ke pasar untuk belanja. Akupun membuka pintu rumah
“halo..”
“Aaa…….” Teriakku lalu menutup pintu rumah segera
Teng..tong…teng..tong, bel rumah berbunyi lagi
“apa yang dilakukan mahluk itu di rumah ini. Dan
bagaimana dia tahu rumah ini” gerutuku
ng..tong…teng..tong, bel rumah berbunyi lagi kali ini
bunyinya semakin sering. Akupun membuka pintu lagi.
“halo..” sapanya lagi
“apa yang kamu lakukan di sini?” jawabku ketus
“bukannya kamu yang mengundangku ke rumah nenekmu.
Seminggu yang lalu kamu bilang bahwa mengajakku ke sini”
“tapi kan, kita menentukan waktunya. Lagi pula dari
mana kamu tahu rumah ini?”
“tentu saja aku tahu” katanya sambil berlalu masuk ke
rumah
“hey.. berhenti Klark, kamu seharusnya tidak langsung
masuk seperti ini…”
“oh iya, saya lupa membuka sepatu” ucapnya sambil
membuka sepatu lalu kembali berjalan “sudah”
“nah begitu..” jawabku “eh bukan maksudnya, kamu
jangan masuk sebelum mendapat ijin dari yang punya rumah” teriakku dan aku
melihatnya sudah lenyap dari kamar tamu.
“wah rumah ini klasik sekali” ucapnya, suaranya
terdengar dari kamar tengah
“Klar…!!!” teriakku
“ini lukisan siapa?” tanyanya
“uhh…dia bahkan tidak mendengarkanku” umpatku dalam
hati
“itu lukisan nenek buyutku”
“wow.. keren. Kamu benar-benar beruntung” ucapnya
kagum
“beruntung apanya, bahkan hari ini aku sial karena
kamu ada di sini”
“apakah piano ini masih berfungsi?” tanyanya lagi
“entahlah” jawabku singkat
“kamu mau minum apa Klark?”
“apa saja yang penting ada cola dan esnya” jawabnya
tersenyum
“itu namanya bukan apa saja, tapi minta cola dingin.
Tunggu sebentar yah aku ambilkan minuman”
“siap komandan” katanya sambil menekan-nekan tuts
piano yang sudah rusak itu.
1
jam yang lalu
“Karlk…kamu dimana?” teriakku
“huh..huh..huh…” dia berlari dari lorong basement
“kamu dari mana saja, ini minuman dan cemilannya”
kataku
“thank you
komandan”
“berhenti memanggilku komandan” kataku sambil
melanjutkan kegiatan menonton TV ku. Dan Klark sibuk memakan cookie dan cola dingin yang ku bawa.
“Elin, rumah ini sangat besar yah”
“iya”
“boleh aku bertanya sesuatu?”
“asal jangan bertanya yang aneh-aneh” jawabku sambil
fokus ke TV
“di basement itu
ruang apa?”
“di basement itu
ada banyak ruangan. Sebelah kiri gudang, sebelah kanan beberapa kamar rusak”
“kalau yang sebelah kanan ujung?”
“itu kamar rusak, tidak boleh ke situ”
“kenapa?”
“nenek bilang di situ bangunannya kotor dan
bangunannya rapuh. Aku dilarang masuk ke situ”
“ayo kita masuk ke sana”
“apa kamu gila, nenek bilang kita tidak boleh ke situ”
“tapi tadi aku mendengar suara dari sana, ayolah. Tadi
akum au masuk ke sana tapi ruangan itu double
key”
“tidak, habiskan saja makananmu dan pergi dari sini”
jawabku
“aku akan pergi setelah masuk ke kamar itu. Jadi
sebelum aku masuk ke sana, aku tidak akan pergi dari sini”
“hah?”
“iya, sudah aku putuskan.”
“kamu tidak boleh memutuskan seenaknya seperti itu”
“apa kamu takut?”
“tentu saja tidak”
“lalu kenapa?”
“aku hanya mengikuti peraturan dari nenek”
“bukannya tidak ada orang di sini. Jika aku sudah
masuk ke sana, aku akan pulang”
“baiklah, tapi janji yah setelah kamu masuk ke sana
kamu harus pulang”
“janji”
“ok, aku akan mengambil kunci di kamar nenek setelah
itu kita ke basement”
“siap komandan”
Entah kenapa aku selalu kalah debat sama Klark. Tapi
setidaknya setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan pergi dari
rumah ini. Dan waktu santaiku dapat kembali lagi. Aku segera mencari kunci basement di kamar nenek. Dan ku temukan
kunci-kunci untuk semua kamar basement.
Aku mengambil senter karena basement kami
sangat gelap dan lampunya telah rusak. Aku melihat Klark sangat senang. Apa
yang dipikirkan anak ini, aku malah merasa ini sangat seram. Kamipun tiba di
kamar yang dimaksud Klark tadi. Aku bahkan tak mendengar suara apapun. Apa dia
sedang mengerjaiku?
“apa kamu mendengarnya? Itu suaranya” ungkap Klar
“suara apa, aku tidak mendengar apapun kecuali suaramu
yang berisik itu”
“hahahaha….berhentilah melucu Elin”
“aku serius” jawabku singkat
Akhirnya setelah mencari kunci yang sesuai dengan
lubang kunci kamar ini kami mendapatkannya. Kamipun membuka pintu kamar ini,
seketika debu berterbangan dan membuat kami batuk.
“uhuk..uhuk… lihat kan Klark ini kosong”
“ayo kita masuk ke dalam” ajaknya. Belum sempat aku
menjawab dia sudah berada di dalam ruangan itu.
“hei ke sini Elin. Di sini ada pintu lagi”
“sudahlah Klark, ini sangat membosankan. Ayo kita
keluar”
Tiba-tiba dia langsung masuk ke ruangan itu tanpa
memperdulikanku.
“Hei Klark tunggu, kamu harus mendengarkanku. Kamu
tidak boleh seenaknya seperti ini. Ayo kita keluar” teriakku sambal menarik
bajunya ke luar. Tapi dia bergeming dan diam saja.
“Klark ayo” perintahku
“E…Elin..”
“kenapa?”
“lihat itu” Klark menunjuk ke salah satu dinding
ruangan. Begitu samar-samar terlihat sesuatu di dinding itu.
Bulu kudukku naik dan mataku mulai berkaca-kaca. Aku
mengambil nafas sedalam dalamnya. Aku masih tidak percaya apa yang tengah ku
lihat sekarang. Hatiku hancur seperti bola kaca yang terjatuh dari tebing.
Apakah ini nyata?
“E..Elin” ucap Klark
“I…itu…I..Ibuku” jawabku dan tangisanku pecah
seketika.
Klark memelukku dengan erat. Dia sudah mati Elin. Aku bisa
melihat arwahnya.
Terilhat jelas mayat ibuku terpaku di tembok.
Comments
Post a Comment