"Kamu
cantik, Mary" ucapku pelan berharap tak ada yang menemukan keberadaanku.
Aku melihatmu dari kejauhan. Memakai gaun putih panjang, dengan riasan
seminimalis mungkin. Ada anting-anting kecil bersembunyi di telingamu, kadang
menampakan diri ketika bias cahaya lampu mengenainya. Kamu berdiri di depan
bersama seorang pria berumur,
aku yakin dia bukan pasanganmu, aku yakin itu. Pria tua itu membawa buku besar
dan berdiri tepat di depanmu. sepertinya dia ahli agama, sempat aku
mendengarnya berbicara layaknya seorang yang sedang berdoa.
Sudah sejam kamu berdiri disana, Mary. Tapi kamu masih sendiri tanpa pasangan. "Dimana pendampingmu? Apa dia tak akan datang?" Tanyaku dalam hati. Tamu undangan sepertinya setuju denganku. Buktinya mata mereka masih mencari-cari keberadaan pendampingmu.
"Teng..Teng...Teng...Teng..." Bunyi piano mengagetkanku. Jari-jari Linzie menekan-nekan tuts piano dengan lihai, berpindah dari satu kunci ke kunci lain berirama. Dia masih seperti dulu, gadis kecil yang juara 1 lomba piano tingkat SD, sekarang menjadi gadis remaja dengan skill instrumen piano yang mempuni. Musiknya sempat mengalihkan perhatianku dari Marry.
"Itu dia... Pengantinnya datang...!!!" Seru salah satu tamu undangan diikuti mata-mata mereka teralih ke pintu ruangan. Satu persatu tamu berdiri, mengiringi langkah pasangan Marry. Dan aku masih mencari-cari dia, penasaran dengan calon pasangan Marry.
"Dia..?!" aku tak pernah berfikir dia akan menjadi pasangan hidup Marry.
"Jefri si kutu buku! Menjadi penggantiku. Apa ini masuk akal?" ucapku. Kali ini cukup tinggi nada yang aku ambil. Kalimatku menjadi perhatian tamu, dan aku mendapat tatapan aneh. Suara-suara sumbang terdengar, ada yang bertanya tentang siapa aku, mengapa aku mengatakan hal yang tak pantas dan kenapa orang sepertiku berada ditempat ini. Tapi aku tak perduli, aku datang bukan untuk mengurusi mulut-mulut mereka. Aku datang untukmu, hanya untukmu Marry.
Marry mulai menyadari keberadaanku. Raut wajahnya berubah. Dia mengambil langkah, langkahnya cepat. Dia sudah berda di depanku dan menamparku tanpa berkata.
Dia marah, wajar saja ketika mengingat apa yang telah aku lakukan padanya.
"Apa kamu masih marah padaku?" Kataku dan dia menamparku lagi. Aku mengulang kalimatku sekali lagi dan dia menamparku lagi. Hal bodoh itu menjadi tontonan orang-orang, termasuk jefri, dia hanya mematung di sana.
Sudah kalimat ke 12 yang aku katakan, Marry masih menamparku. Tak ada yang menahannya, bahkan walaupun itu keluarganya sendiri. Mereka seperti mendukung tindakannya. Wajar saja, aku juga tak akan menyalahkan tindakannya itu.
"Apa kamu masih marah padaku?" Tanyaku lagi Dan dia menamparku lagi, dan saat itu dia berlinang air mata. Seperti wanita yang putus asa. Bukankah dia sedari tadinya begitu semangat menamparku seperti wonder women yang menghabisi penjahat? secepat itukah dia kehabisan tenaga?
Kali ini aku coba memegang pundaknya, menenangkannya sebisaku. Namun dia menolak tanganku.
"Aku sangat mencintaimu Marry, Aku sungguh mencintaimu !"Ujarku meyakininya Dia diam "Aku tahu aku sempat melakukan kesalahan besar padamu, tapi sekarang aku kembali padamu. Untuk menebus semua kesalahan, semua tindakan yang seharusnya tak aku lakukan masa lampau."
Dia menegakkan kepalanya, menatapku penuh kebencian. Dan dia bersuara "Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan dulu! Apa kamu tahu sebesar apa kasehalanmu dulu! Apa kamu tahu seberapa menderitanya aku atas apa yang kamu lakukan dulu !"
"Aku tahu itu, Marry! Karena itu aku kembali untuk menebusnya. Jadilah istriku, aku sadar kalau hanya kamulah yang pantas menjadi pendamping hidupku"
Aku memeluknya, terus memeluknya. "Aku sayang kamu.....Marry" ucapku lirih
Dan... "Brakkkk.....!!!!!!" Seseorang memukul wajahku dan aku tersungkur "Pergi kau bajingan ! Kau telah merusak hidup anakku! Dan kau kembali untuk merusaknya lagi di hari bahagianya!" Teriak ayah marry "Ayah, aku tak berniat buruk saat ini ayah! Aku datang untuk menikahi Marry! Ucapku sambil mencoba menggapai pinggangnya namun tendangan yangku dapat. "Marry tak punya kebahagiaan bersamamu! Pergilah!" Bentaknya "Tidak. Kebahagiaan Marry hanya ada padaku! Bukan pada pria kutu buku itu!" Ucapku sambil menunjuknya. "Jangan kau menghinanya! Kamu sendiri tahu tindakan apa yang kamu lakukan sebelumnya pada Marry. KAMU MENIDURI-nya! Dan meninggalkannya begitu saja!" Bentak Shela, dia KaKak Marry.
Mendengar kalimat itu riuh suara tamu undangan meledak seketika. Seperti ibu-ibu arisan yang sedang menonton acara gosip mereka bersua ingin tahu kebenarannya, walau itu masalah pribadi orang lain.
Aku melihat marry, dia jatuh tersungkur. Seperti burung yang kehilangan sayap, dia rapuh. Aku memeluknya lagi, kali ini aku tak berbicara. Aku tahu luka yang telah ku buat sangatlah perih, tapi aku ingin menyembuhkannya. Aku ingin itu. Perlahan dia bersuara juga "Arthur..." Ucapnya "Iya" "Pergilah..." "Tapi..." "Sudahlah...Pergilah sekarang" ucapnya lirih "Baiklah, tapi aku berjanji akan membuktikan padamu bahwa aku telah berubah." Aku melepaskan dekapanku "Aku mencintaimu Marry, sangat mencintaimu" ucapku dan mengecup dahinya. "Jangan....Tolong...jangan kembali lagi" ucapnya lirih
Aku meninggalkannya saat itu. Meninggalkannya dengan lukanya yang terbuka kembali, dengan rasa malu yang keluarganya pikul, dengan cibiran para undangan.
Beberapa hari kemudian aku mendapatkan pesan singkat dari seseorang.
"Kerja yang bagus, arthur. Pernikahannya batal dan keluarga Marry sudah membayar ganti rugi 5x lipat dari modalku. Aku sudah mengirimkan uangnya di rekeningmu. Jumlahnya sesuai dengan kontrak kita"
From : Louis
Aku tersenyum melihatnya, dia lebih picik dari pada aku. Mengorbankan pernikahan anak laki-lakinya demi uang. Tapi tak apalah dengan begitu, sepertinya malam ini aku akan menginap di bar. Sudah lama aku tak ke sana.
Sudah sejam kamu berdiri disana, Mary. Tapi kamu masih sendiri tanpa pasangan. "Dimana pendampingmu? Apa dia tak akan datang?" Tanyaku dalam hati. Tamu undangan sepertinya setuju denganku. Buktinya mata mereka masih mencari-cari keberadaan pendampingmu.
"Teng..Teng...Teng...Teng..." Bunyi piano mengagetkanku. Jari-jari Linzie menekan-nekan tuts piano dengan lihai, berpindah dari satu kunci ke kunci lain berirama. Dia masih seperti dulu, gadis kecil yang juara 1 lomba piano tingkat SD, sekarang menjadi gadis remaja dengan skill instrumen piano yang mempuni. Musiknya sempat mengalihkan perhatianku dari Marry.
"Itu dia... Pengantinnya datang...!!!" Seru salah satu tamu undangan diikuti mata-mata mereka teralih ke pintu ruangan. Satu persatu tamu berdiri, mengiringi langkah pasangan Marry. Dan aku masih mencari-cari dia, penasaran dengan calon pasangan Marry.
"Dia..?!" aku tak pernah berfikir dia akan menjadi pasangan hidup Marry.
"Jefri si kutu buku! Menjadi penggantiku. Apa ini masuk akal?" ucapku. Kali ini cukup tinggi nada yang aku ambil. Kalimatku menjadi perhatian tamu, dan aku mendapat tatapan aneh. Suara-suara sumbang terdengar, ada yang bertanya tentang siapa aku, mengapa aku mengatakan hal yang tak pantas dan kenapa orang sepertiku berada ditempat ini. Tapi aku tak perduli, aku datang bukan untuk mengurusi mulut-mulut mereka. Aku datang untukmu, hanya untukmu Marry.
Marry mulai menyadari keberadaanku. Raut wajahnya berubah. Dia mengambil langkah, langkahnya cepat. Dia sudah berda di depanku dan menamparku tanpa berkata.
Dia marah, wajar saja ketika mengingat apa yang telah aku lakukan padanya.
"Apa kamu masih marah padaku?" Kataku dan dia menamparku lagi. Aku mengulang kalimatku sekali lagi dan dia menamparku lagi. Hal bodoh itu menjadi tontonan orang-orang, termasuk jefri, dia hanya mematung di sana.
Sudah kalimat ke 12 yang aku katakan, Marry masih menamparku. Tak ada yang menahannya, bahkan walaupun itu keluarganya sendiri. Mereka seperti mendukung tindakannya. Wajar saja, aku juga tak akan menyalahkan tindakannya itu.
"Apa kamu masih marah padaku?" Tanyaku lagi Dan dia menamparku lagi, dan saat itu dia berlinang air mata. Seperti wanita yang putus asa. Bukankah dia sedari tadinya begitu semangat menamparku seperti wonder women yang menghabisi penjahat? secepat itukah dia kehabisan tenaga?
Kali ini aku coba memegang pundaknya, menenangkannya sebisaku. Namun dia menolak tanganku.
"Aku sangat mencintaimu Marry, Aku sungguh mencintaimu !"Ujarku meyakininya Dia diam "Aku tahu aku sempat melakukan kesalahan besar padamu, tapi sekarang aku kembali padamu. Untuk menebus semua kesalahan, semua tindakan yang seharusnya tak aku lakukan masa lampau."
Dia menegakkan kepalanya, menatapku penuh kebencian. Dan dia bersuara "Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan dulu! Apa kamu tahu sebesar apa kasehalanmu dulu! Apa kamu tahu seberapa menderitanya aku atas apa yang kamu lakukan dulu !"
"Aku tahu itu, Marry! Karena itu aku kembali untuk menebusnya. Jadilah istriku, aku sadar kalau hanya kamulah yang pantas menjadi pendamping hidupku"
Aku memeluknya, terus memeluknya. "Aku sayang kamu.....Marry" ucapku lirih
Dan... "Brakkkk.....!!!!!!" Seseorang memukul wajahku dan aku tersungkur "Pergi kau bajingan ! Kau telah merusak hidup anakku! Dan kau kembali untuk merusaknya lagi di hari bahagianya!" Teriak ayah marry "Ayah, aku tak berniat buruk saat ini ayah! Aku datang untuk menikahi Marry! Ucapku sambil mencoba menggapai pinggangnya namun tendangan yangku dapat. "Marry tak punya kebahagiaan bersamamu! Pergilah!" Bentaknya "Tidak. Kebahagiaan Marry hanya ada padaku! Bukan pada pria kutu buku itu!" Ucapku sambil menunjuknya. "Jangan kau menghinanya! Kamu sendiri tahu tindakan apa yang kamu lakukan sebelumnya pada Marry. KAMU MENIDURI-nya! Dan meninggalkannya begitu saja!" Bentak Shela, dia KaKak Marry.
Mendengar kalimat itu riuh suara tamu undangan meledak seketika. Seperti ibu-ibu arisan yang sedang menonton acara gosip mereka bersua ingin tahu kebenarannya, walau itu masalah pribadi orang lain.
Aku melihat marry, dia jatuh tersungkur. Seperti burung yang kehilangan sayap, dia rapuh. Aku memeluknya lagi, kali ini aku tak berbicara. Aku tahu luka yang telah ku buat sangatlah perih, tapi aku ingin menyembuhkannya. Aku ingin itu. Perlahan dia bersuara juga "Arthur..." Ucapnya "Iya" "Pergilah..." "Tapi..." "Sudahlah...Pergilah sekarang" ucapnya lirih "Baiklah, tapi aku berjanji akan membuktikan padamu bahwa aku telah berubah." Aku melepaskan dekapanku "Aku mencintaimu Marry, sangat mencintaimu" ucapku dan mengecup dahinya. "Jangan....Tolong...jangan kembali lagi" ucapnya lirih
Aku meninggalkannya saat itu. Meninggalkannya dengan lukanya yang terbuka kembali, dengan rasa malu yang keluarganya pikul, dengan cibiran para undangan.
Beberapa hari kemudian aku mendapatkan pesan singkat dari seseorang.
"Kerja yang bagus, arthur. Pernikahannya batal dan keluarga Marry sudah membayar ganti rugi 5x lipat dari modalku. Aku sudah mengirimkan uangnya di rekeningmu. Jumlahnya sesuai dengan kontrak kita"
From : Louis
Aku tersenyum melihatnya, dia lebih picik dari pada aku. Mengorbankan pernikahan anak laki-lakinya demi uang. Tapi tak apalah dengan begitu, sepertinya malam ini aku akan menginap di bar. Sudah lama aku tak ke sana.
Comments
Post a Comment